What's On

Galeri Nasional hadirkan "Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak"


Exhibition   2022-03-30   Download

Pandemi nyatanya tidak membuat para pelaku seni kehabisan ide untuk terus berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menghadirkan karya seni yang sangat bermakna. 

Galeri Nasional di Jakarta selalu menghadirkan pameran seni dengan karya-karya yang luar biasa dari para kurator seni di Indonesia. Pameran seni di Galeri Nasional bersifat temporary atau tidak permanen, dimana setiap bulan nya akan ada perhelatan seni yang berbeda-beda. Seakan membut warga Jakarta tidak ingin tertinggal melewati pameran seni yang hanya bisa mereka rasakan selama periode pameran berlangsung. Pada akhir bulan Januari lalu, Galeri Nasional Indonesia bersama Goethe-Institut Indonesien menghadirkan pameran seni yang digagas oleh empat kurator beda negara. Salah satu usaha agar seni tetap hidup ditengah pandemi. Indonesia disebut menjadi tuan rumah Pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” yang telah dibuka mulai 28 Januari–27 Februari 2022. A

cara seni ini menjadi ajang untuk menghadirkan karya koleksi Galeri Nasional Indonesia dalam balutan narasi yang mengulik awal mula koleksi dan menyoroti hubungan interpersonal di antara para seniman. Pameran ini merupakan bagian dari Collecting Entanglements and Embodied Histories, proyek dialog kuratorial jangka panjang yang diprakarsai oleh Goethe-Institut, bekerja sama dengan empat institusi penting di Thailand, Singapura, Jerman, dan Indonesia: MAIIAM Contemporary Art Museum, Singapore Art Museum, Hamburger Bahnhof (bagian dari Nationalgalerie – Staatliche Museen zu Berlin di Jerman), dan Galeri Nasional Indonesia. 

Pameran ini diketahui diadakan di setiap negara dengan menampilkan koleksi karya dari keempat institusi tersebut. Setiap pameran memiliki narasi kuratorial yang berbeda dari masing-masing kurator: Anna-Catharina Gebbers (Jerman), Gridthiya Gaweewong (Thailand), June Yap (Singapura) dan Grace Samboh (Indonesia) yang merupakan kurator pameran. 

Pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” berangkat dari kerinduan untuk menikmati koleksi Galeri Nasional Indonesia yang berjumlah hampir 2.000 karya dan baru segelintir yang pernah dipamerkan kepada publik juga dari ketertarikan untuk menelusuri awal mula koleksi dan institusi ini. Penjelajahan kuratorial Grace Samboh mencermati dua pameran bersejarah di Galeri Nasional Indonesia, yaitu “Paris-Jakarta 1950-1960” pada 1992 dan “Pameran Seni Kontemporer dari Negara-Negara Non Blok” pada 1995. Penjelajahan ini memunculkan beberapa pertanyaan seputar relasi di antara seniman dan negara yang terlibat dalam pameran.

Apa yang dapat kita pelajari dari berbagai pertukaran tersebut? Apakah pertukaran-pertukaran itu semata gerak-gerik simbolik? Seperti apa hubungan para seniman? Betulkah terjadi pertukaran di antara para perorangan seniman ini? Perenungan atas pertanyaan ini mewujud dalam lima bagian pameran, yang diberi judul Guyub, Keberpihakan, Kenduri, Kekerabatan, dan Daya. Judul Pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” diambil dari salah satu karya yang ditampilkan, yaitu Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak (1997) oleh seniman S. Teddy D.